Cerita

Makna yang Dalam di Lirik Lagu Dear God- A7X Bikin Baper!

By on December 8, 2017

Buat kamu yang anak ‘musik banget’, pastinya pernah denger nama Avenged Sevenfold kan? Mungkin banyak di luar sana  yang beranggapan kalau band satu ini selalu ngeluarin lagu-lagu cadas dan cukup membisingkan telinga, tapi sebenarnya opini itu nggak sepenuhnya bener kok.

A7X  emang terkenal sebagai band cadas yang suka ngasih penampilan lumayan urakan ke penonton dan fansnya. Tapi, band yang digawangi Synyster Gates, M.Shadows cs ini harus diakui nggak pernah  main-main kalau bikin lirik.

Dear-God avenged sevenfold

Buktinya lagu mereka yang berjudul Dear God punya banyak kisah yang sampai sekarang masih berusaha dipecahin sama fansnya sendiri. Ada yang mengaitkan lagu itu sama jalan hidup pemain band-nya sendiri. Ada juga yang beranggapan itu cuma curhatan si personil lalu dituangin ke lagu. Kira-kira yang bener siapa ya?

Makna dan lirik lagu “Dear God”Avanged Sevenfold

Dari sisi sebagai pendengar, dari awal sampai akhir denger liriknya aja tuh bisa dimaknai kalau lagu ini sedang menceritakan tentang seseorang yang sedih udah ninggalin pujaan hatinya terus nyesel karena ternyata setelah tidak bersamanya, ia jadi merasa hampa. Sedih banget nggak sih?

Tapi kalau dicermati ulang, lagu Dear God berusaha menyiratkan pesan yang intinya berkaitan satu sama lain. Jadi persis seperti sebuah cerita bersambung, yakni penyesalan , rindu mendalam, dan rangkaian doa dari jauh.

Misalnya dalam pembukaan lirik awal yang berbunyi “A lonely road, crossed another cold state line.. miles away from those I love purpose hard to find”  bisa dibayangkan bahwa seseorang ini sedang jauh dari tempat orang yang dikasihinya. Karena itu juga ia merasa sulit menemukan tujuan hidup, seolah menggambarkan kesedihan dan penyesalan mendalam. Ia jadi bertanya-tanya pada dirinya sendiri, kira-kira sebenarnya apa yang ia cari di tempat ini dan buat apa tujuan hidupnya?

lirik dear god

Kalau mau dikaitin sih, bisa jadi sang personil band lagi curhat tentang keseharian mereka yang dihabiskan buat manggung dan beratnya tekanan dunia hiburan.. Lalu, demi kerja keras, uang, dan popularitas, keluarga pun harus ditinggalin dan orang-orang tercinta harus dinomorduakan. Seakan-akan, hidup ini cuma mengejar kesenangan semata, tapi yang bikin bahagia justru ditinggalin.

Terus disusul lirik “Dear God the only thing I ask of you is to hold her when I’m not around when I’m much too far away” atau yang berarti si penulis langsung meminta pada Tuhan untuk orang tersayangnya selama ia tidak berada di dekatnya. Karena ia menyadari cuma Tuhan yang bisa menjaganya. Orang ini juga merasa menyesal karena nggak bisa ada di deket orang yang ia cintai.

Lalu berlanjut deh ke lirik selanjutnya “There’s nothing here for me on this barren road” yang bisa diterjemahkan bahwa udah ngggak ada apa-apa lagi bagi orang ini di jalan yang dia pilih. Dia merasa menapaki jalan yang ia anggap kosong dan sepi.  Lirik demi lirik emang berasa banget nyambungnya, dan lirik ketiga yang dibahas di sini kemungkinan besar jadi penegasan bahwa orang yang diceritakan dalam lagu memang merasa kalau apa yang ia jalani tak ada artinya tanpa orang yang dikasihinya. Ia benar-benar menyesal telah meninggalkan segala hal yang sebelumnya ia jaga dan cintai segenap hatinya.

Sama dengan lirik pertama, puncaknya lagu ini ditutup dengan lirik yang cukup dalam dan nada yang  emosional banget. Apalagi suara M. Shadow bener-bener hidup waktu nyanyi Dear God.

Buat kamu yang penasaran gimana Dear God bakal bikin kamu merinding dan merindukan seseorang, coba deh dengerin lagunya!

Continue Reading

Konser

Dream Theater Bius Penonton di JogjaRockarta 2017

By on November 28, 2017

Siapa yang nggak kenal band beraliran progresive rock asal Boston, Amerika Serikat ini. Band yang terbentuk dari tahun 1985 ini memang terkenal membuat para penontonnya terkesima dengan skill para personilnya serta jenis-jenis aliran musik yang dibawakan.  Selain itu lagu-lagu yang dibuat oleh band ini selalu memiliki warna musik yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan bandband rock lainnya. Paduan instrumen musik yang lebih banyak ketimbang lirik di setiap lagunya menjadi salah satu ciri khas yang bikin gw jatuh cinta sama band ini dan setia sebagai fansnya hingga kini.

Pada tanggal 29 September 2017 lalu, kota Yogyakarta, tempat gw hidup, mendapatkan kesempatan untuk disambangi oleh band ini .. tentu saja nggak gw lewatin.  Meskipun penonton sempat mengalami kekecewaan karena tempat konser yang dipindah secara mendadak dari Candi Prambanan ke Stadion Kridosono. Promotor dari konser ini yaitu Rajawali Indonesia merasa kecewa karena terdapat protes dari Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) terkait tempat pelaksanaan konser tersebut meski izin lengkap telah dikantongi. Meski begitu, pihak Dream Theater tetap kooperatif dan nggak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Sebagai pecinta seni, gw sepakat dengan pendapat ahli arkeolog. Demi menjaga Prambanan yang legend, kompromi harus dilakukan.

dream theater formasi lengkap

Tak kurang 15.000 penonton termasuk gw sendiri, datang memadati Stadion Kridosono yang berada di wilayah Kotabaru. Hal ini dikarenakan Dream Theater memiliki basis fans di kota Jogja dan dengan harga tiket yang nggak begitu mahal, yaitu seharga Rp 350.000,- dan Rp 750.000,-  untuk presale. Sementara untuk reguler dipatok dengan harga Rp 450.000,- dan Rp900.000,- membuat antusiasme penonton semakin meningkat. Fans dari luar kota Jogja juga ikut meramaikan konser ini.

Sebelum Dream Theater memulai konsernya, gw udah dapet spot reguler yang nyaman. Band ini memulai 30 menit lebih awal dari jadwal yakni pukul 20.30 dengan membawakan 16 buah lagu. Belum pernah terjadi sepanjang gw menghadiri konser. Lagu dari album tahun 2000-an menjadi pembuka manis sebelum sajian utama berupa satu album penuh Images and Words (1992). James LaBrie dan kawan-kawan sengaja membuat daftar sama untuk konser di Asia dan Australia kali ini sesuai dengan tema Images, Words & Beyond.

Seperti ciri khas konser Dream Theater pada umumnya, para personilnya selalu menunjukkan skill tiap individu. Seperti John Petrucci yang ciamik memetik gitar dengan luar biasa terutama pada beberapa part lagu, seperti Under The Glass Moon dan juga Pull Me Under. Seperti tak mau kalah, gebukan drum Mike Mangini pada saat lagu Ytse Jam begitu luar biasa dan sangat memukau para penonton. Permainan keyboard yang lembut dan sangat ramah di telinga disajikan oleh Jordan Rudes pada saat memainkan lagu Another Day. Tak mau kalah, John Myung juga membalut semua lagu dan mengisi part-part setiap lagu dengan cabikan bassnya.

dream theater jogjakarta 2017

Kejutan yang nggak biasa dilakukan oleh Jordan Rudes. Personil dengan ciri khas kepala plontos dan berjenggot ini membawakan instrumen lagu tembang dolanan anak Gundul-Gundul Pacul dengan keyboard dan menjadi surprise yang menyenangkan, sebelum memulai intro lagu pendek Wait for Sleep, yang membuat penonton bernyanyi bersama. Wah, keren deh!

Seluruh penonton larut dan melebur menikmati konser tersebut, mulai dari muda, tua, pelajar dan para pekerja menyatu dalam buaian permainan band yang terkenal dengan susunan instrumen yang nggak biasa ini. Meskipun penataan panggung nggak se-spektakuler konser-konser Dream Theater biasanya, akan tetapi penambahan efek sinar lampu dan juga asap serta api membuat konser Dream Theater ini menjadi lebih hidup. Jempol buat panitia yang tetap memberikan tata panggung yang heboh.

Secara keseluruhan, gw nggak melihat nggak ada perbedaan mencolok dalam penampilan band yang pernah dua kali konser di Jakarta itu. Namun, gw dan penonton sebenarnya sangat berharap Dream Theater memainkan hit mereka yang terkenal seperti The Spirit Carries On, On the Backs of Angels, Endless Sacrifice, Home dan Lost Not Forgotten di konser kali ini. Entah kenapa, nggak dimasukkan dalam playlist mereka.

After all, dengan dukungan sound system berdaya 120.000 watt, tata lampu yang apik, dan tata panggung yang megah, konser Dream Theater kali ini menurutku layak disebut salah satu konser rock terbaik yang pernah digelar di kota Jogja, kota gw. Dream Theater, you rock!

Continue Reading